Ekonomi Sultra Tumbuh, Syamsir Nur Ingatkan Risiko Struktural dan Fiskal di FERO 2026

Ekonomi Sultra Tumbuh, Syamsir Nur Ingatkan Risiko Struktural dan Fiskal di FERO 2026

Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

“Penurunan NTP mencerminkan turunnya harga hasil panen di tengah kenaikan biaya yang harus dibayar. Ini menekan daya beli dan kesejahteraan petani,” jelasnya.

Menurut Syamsir, kenaikan biaya produksi turut mempersempit margin usaha tani dan memperdalam tekanan ekonomi di sektor pertanian.

Transfer Menurun, Fiskal Daerah Tertekan

Dari sisi fiskal, pendapatan negara di daerah tercatat meningkat, terutama dari sektor perpajakan yang tumbuh hingga 90,64 persen, didorong oleh PPN dan bea masuk.

Namun, kondisi berbeda terjadi pada belanja negara, terutama transfer ke daerah yang mengalami penurunan hingga 27,72 persen.

“Efisiensi fiskal di tingkat pusat berdampak langsung ke daerah. Transfer menurun, sementara prioritas nasional semakin menguat,” ungkap Syamsir.

Di tingkat daerah, Pendapatan Asli Daerah (PAD) memang tumbuh 23,04 persen, namun masih bergantung pada sektor pertambangan.

Sementara itu, belanja daerah mengalami penurunan, dengan defisit meningkat menjadi Rp682,91 miliar.

Fokus pada Kualitas Belanja dan Reformasi Kebijakan

Syamsir menegaskan bahwa tantangan utama pembangunan daerah bukan hanya keterbatasan anggaran, tetapi efektivitas pengelolaan belanja.

“Fokus kebijakan fiskal harus bergeser dari sekadar besar anggaran menjadi kualitas dan dampak belanja,” tegasnya.

Syamsir Nur mendorong sejumlah langkah strategis, antara lain penajaman prioritas belanja, penghapusan program berdaya dampak rendah, serta fokus pada sektor dengan efek pengganda tinggi.