Terkini, Kendari — Di tengah badai ekonomi global yang kian tak menentu, daerah dituntut menemukan cara untuk tetap bertahan. Bagi ekonom Syamsir Nur, jawabannya terletak pada satu hal mendasar yakni menjaga daya beli masyarakat.
Sebab, ketika daya beli tetap terjaga, roda ekonomi akan terus berputar bahkan saat tekanan datang dari berbagai arah.
Ketidakpastian global kini bukan lagi sekadar wacana. Kenaikan harga energi, fluktuasi pasar keuangan, hingga tekanan inflasi mulai terasa hingga ke daerah. Sulawesi Tenggara pun tak luput dari dampaknya.
“Memang tantangan utama yang kita hadapi saat ini adalah ketidakpastian global. Pemerintah perlu melakukan mitigasi melalui kebijakan moneter dan fiskal agar konsumsi dan investasi tetap terjaga,” ujar Dr Syamsir Nur saat ditemui Kendari Terkini, Jumat 24 April 2026.
Di balik data dan grafik ekonomi, tersimpan realitas yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat yakni harga kebutuhan pokok yang meningkat, ongkos transportasi yang naik, serta daya beli yang perlahan tergerus.
Dalam situasi seperti ini, arah kebijakan pemerintah menjadi penentu.
Dosen Universitas Haluoleo ini menekankan pentingnya subsidi yang tepat sasaran, terutama bagi kelompok masyarakat menengah segmen yang selama ini menjadi motor utama konsumsi domestik.
“Jika kelompok menengah tertekan, konsumsi dan investasi ikut melemah. Itu yang harus kita jaga bersama,” kata Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) masa jabatan 2022-2025 tersebut.
Namun, tekanan ekonomi tidak hanya datang dari faktor global. Ancaman juga muncul dari alam. Fenomena El Nino yang berpotensi mengganggu produksi pangan menjadi peringatan serius.
Ketergantungan sektor pangan pada kondisi iklim membuatnya rentan. Ketika produksi terganggu, harga akan naik dan inflasi menjadi sulit dikendalikan.










