Terkini, Kendari - Kondisi perekonomian Sulawesi Tenggara (Sultra) dinilai masih tumbuh stabil, namun menghadapi sejumlah risiko struktural dan tekanan fiskal yang perlu diantisipasi secara serius.
Hal tersebut disampaikan oleh Local Expert Sultra, Dr. Syamsir Nur, dalam Forum Ekonomi Regional Sulawesi Tenggara (FERO Sultra) yang digelar di Aula Kanwil DJPb Sultra ini Kamis 30 April 2026 lalu.
Dosen Universitas Haluoleo tersebut mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Sultra pada triwulan IV tercatat sebesar 5,94 persen (year-on-year), meningkat dari triwulan sebelumnya sebesar 5,65 persen.
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan mencapai Rp32,28 triliun.
Meski demikian, Ekonom ini menilai struktur ekonomi daerah masih menghadapi tantangan.
“Sektor pertanian yang selama ini menjadi penopang utama justru mengalami penurunan kontribusi terhadap PDRB (23,80%), sementara sektor pertambangan dan industri pengolahan sangat fluktuatif karena bergantung pada kondisi global,” ujarnya.
Di sisi lain, kata dia sektor jasa seperti akomodasi, makanan dan minuman (15,05%), serta informasi dan komunikasi mulai tumbuh (13,41%), namun kontribusinya terhadap penguatan ekonomi daerah masih terbatas.
Inflasi Naik, Daya Beli Petani Tertekan
Syamsir menjelaskan, inflasi di Sultra relatif terkendali, tetapi menunjukkan tren peningkatan.
Inflasi Maret tercatat sebesar 3,37 persen (year-on-year), dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, perumahan, pendidikan, dan jasa lainnya.
Dosen UHO ini juga menyoroti penurunan Nilai Tukar Petani (Maret 98,55) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) sebagai indikator melemahnya kesejahteraan petani.










