Terkini, Kendari — Pemerintah Kota Kendari melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan bersama Bunda Literasi Kota Kendari resmi meluncurkan Gerakan Bersama Gemar Membaca Berbasis Inklusi Sosial (GEMA MOBASA) di SD Negeri 35 Kendari, Kecamatan Poasia, Jumat 5 Juni 2026.
Peluncuran GEMA MOBASA turut dihadiri jajaran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Kendari, Plt Camat Poasia bersama para lurah se-Kecamatan Poasia, guru SDN 35 Kendari, pegiat literasi, serta perwakilan orang tua murid.
Peluncuran program ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat budaya literasi di tengah masyarakat, khususnya pada kalangan pelajar.
GEMA MOBASA hadir sebagai implementasi Peraturan Wali Kota Kendari Nomor 59 Tahun 2022 tentang Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial serta Keputusan Wali Kota Kendari Nomor 309 Tahun 2026 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Gerakan Bersama Gemar Membaca Berbasis Inklusi Sosial.

Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Kendari, M. Akrim Kurdin, mengatakan gerakan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menghadirkan akses pengetahuan yang lebih luas dan merata bagi seluruh masyarakat.
“GEMA MOBASA merupakan langkah nyata pemerintah kota dalam mewujudkan transformasi perpustakaan yang inklusif, sehingga akses terhadap ilmu pengetahuan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, khususnya anak-anak pada satuan pendidikan dasar,” ujar Akrim Kurdin.
Menurutnya, penguatan budaya baca tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, sekolah, keluarga, hingga komunitas masyarakat.
Kegiatan peluncuran turut melibatkan berbagai unsur, di antaranya Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Kendari, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kendari, Pemerintah Kecamatan Poasia, Forum Anak Kota Kendari, pegiat literasi, serta orang tua murid.

Sementara itu, Bunda Literasi Kota Kendari, Shintya Putri Anawula Sudirman, menegaskan bahwa tantangan literasi di era digital semakin besar seiring derasnya arus informasi yang diterima masyarakat setiap hari.
Ia menilai kemampuan membaca tidak lagi sekadar menjadi keterampilan dasar, melainkan fondasi penting dalam membentuk generasi yang cerdas, kritis, kreatif, dan berkarakter.










