Terkini, Kendari – Gerakan Bersama Gemar Membaca Berbasis Inklusi Sosial (GEMA MOBASA) kembali digelar di Kota Kendari. Kali ini, kegiatan berlangsung di SDN 66 Kendari, Kecamatan Poasia, sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya literasi di kalangan pelajar dan masyarakat.
Program yang diinisiasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Kendari bersama Bunda Literasi Kota Kendari tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kendari, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Kendari, Forum Anak Kota Kendari, pihak sekolah, serta masyarakat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Kendari, M. Akrim Kurdin yang diwakili Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Kendari, Drs Al Imran mengatakan bahwa GEMA MOBASA merupakan langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan minat baca masyarakat sekaligus memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat.
“GEMA MOBASA diharapkan menjadi wadah untuk menumbuhkan budaya membaca sejak dini sekaligus memperluas akses literasi bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali,” ujarnya.
Pelaksanaan program tersebut mengacu pada Peraturan Wali Kota Kendari Nomor 59 Tahun 2022 tentang Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial serta Surat Keputusan Wali Kota Kendari Nomor 309 Tahun 2026 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Gerakan Bersama Gemar Membaca Berbasis Inklusi Sosial pada satuan pendidikan dasar, pendidikan khusus, dan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Bunda Literasi Kota Kendari, Shintya Putri Anawula Sudirman, mengajak para siswa untuk menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, membaca merupakan kunci untuk membuka berbagai peluang dan kesempatan dalam kehidupan. Karena itu, budaya literasi harus terus diperkuat di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

“Membaca adalah kunci yang membuka semua pintu kesempatan dalam kehidupan. Melalui kegiatan GEMA MOBASA ini, kita ingin menegaskan kembali pentingnya budaya membaca sebagai bekal masa depan generasi muda,” ujar Shintya.
Ia mengakui bahwa anak-anak saat ini menghadapi tantangan besar di era digital, di mana penggunaan gawai dan beragam konten hiburan sering kali mengurangi minat membaca buku.
“Layar gawai lebih mudah menarik perhatian daripada halaman buku. Namun saya percaya, dengan niat yang kuat, program yang tepat, dan kerja sama antara sekolah, orang tua, serta masyarakat, kita mampu membentuk generasi yang cinta membaca dan haus akan ilmu pengetahuan,” katanya.










