Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan pandangannya tentang kemiskinan.
Ia menilai kemiskinan sering terjadi secara turun-temurun karena kurangnya kesempatan dan pendidikan, bukan semata-mata takdir.
Ia menggambarkan kondisi kemiskinan yang seperti lingkaran: nenek miskin, bapak miskin, anak miskin, hingga cucu tetap miskin.
Menurutnya, kondisi tersebut harus diputus dengan kerja keras, pendidikan, dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.
“Kemiskinan bukan takdir. Kemiskinan harus dilawan dengan kerja keras, pendidikan, dan kesempatan usaha. Kita tidak boleh hanya bertanya kenapa mereka miskin, tetapi kita harus membantu mereka agar bisa bangkit,” tegasnya.
Filosofi Kepemimpinan: Kepala Ikan
Gubernur juga menyampaikan filosofi kepemimpinan yang sederhana namun bermakna, yaitu filosofi ikan.
Menurutnya, jika kepala ikan rusak, maka seluruh badan ikan akan ikut rusak. Artinya, jika pemimpin rusak, maka bawahannya juga akan rusak.
Sebaliknya, jika pemimpinnya baik dan jujur, maka organisasi atau daerah yang dipimpin juga akan baik.
“Kunci kepemimpinan itu sederhana. Pemimpin tidak boleh rusak. Kalau pemimpinnya baik, maka semuanya akan ikut baik,” ujarnya.










