Selain itu, Bunda Literasi juga menggerakkan Program GEMA MOBASA sebagai gerakan gemar membaca berbasis inklusi sosial yang menjangkau 11 kecamatan di Kota Kendari, mulai dari tingkat TK/RA, SD/MI hingga SMP/MTs.
Gerakan membaca 15 menit setiap hari turut digalakkan di ruang publik bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, dengan melibatkan berbagai pihak seperti komunitas literasi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, serta Forum Anak Kota Kendari.
Upaya penguatan perpustakaan juga terus didorong melalui pengembangan perpustakaan di tingkat kelurahan, kecamatan, sekolah, hingga perpustakaan digital guna memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan.
“Literasi tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari sekolah, komunitas, pemerintah daerah, hingga media dan dunia usaha,” tambah Ketua Dekranasda Kota Kendari ini.
Berbagai kegiatan literasi kreatif turut digelar, seperti lomba mendongeng, membaca puisi, hingga lomba perpustakaan kelurahan, yang bertujuan menjadikan literasi sebagai aktivitas yang menyenangkan, bukan sekadar kewajiban.
Di era digital, pemanfaatan teknologi juga didorong melalui penggunaan aplikasi perpustakaan digital di Perpustakaan Kota Kendari, guna menarik minat generasi muda yang semakin akrab dengan teknologi.
Selain sebagai penggerak, Bunda Literasi juga menjadi teladan dengan menunjukkan kebiasaan membaca serta aktif melakukan edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya literasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.
Dengan berbagai upaya tersebut, semangat Kartini terus dihidupkan dalam gerakan literasi membuka jendela dunia melalui buku dan menyalakan cahaya pengetahuan bagi generasi masa depan.










