Dengan bahasa sederhana, pembaca diajak memahami bagaimana keputusan kecil dalam kehidupan memiliki dampak dalam logika ekonomi yang lebih luas.
Literasi di BI Sultra pun tidak berhenti pada buku. Ia hadir dalam bentuk yang lebih segar dan relevan.
Musikalisasi puisi mengalun, sementara konten reels resensi buku beredar di layar ponsel. Literasi kini memiliki banyak wajah dan semuanya dekat dengan generasi masa kini.
Di balik itu, terdapat upaya strategis membangun ekosistem. Penandatanganan komitmen bersama Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi langkah penting agar literasi tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi tumbuh sebagai gerakan berkelanjutan.
Kolaborasi juga diperluas ke dunia kampus. BI Sultra menggandeng lima perguruan tinggi, yakni Universitas Halu Oleo, IAIN Kendari, STIE 66 Kendari, Universitas Sembilanbelas November Kolaka, dan Universitas Dayanu Ikhsanuddin melalui program bantuan pendidikan kebanksentralan.
Dari sinilah lahir ratusan mahasiswa dalam komunitas Generasi Baru Indonesia (GenBI). Pada 2026, jumlah penerima mencapai 330 orang.
Mereka bukan sekadar penerima beasiswa, tetapi agen perubahan yang membawa semangat literasi ke tengah masyarakat.
Akses literasi pun terus diperluas. Perpustakaan BI Sultra kini memiliki lebih dari 7.000 koleksi buku, baik cetak maupun digital melalui aplikasi iBi Library. Ini menegaskan bahwa literasi bukan hanya soal ajakan, tetapi juga soal kemudahan akses.
Pada akhirnya, World Book Day 2026 di BI Sultra menyampaikan pesan sederhana namun kuat bahwa literasi bukan sekadar kegiatan membaca, melainkan cara membentuk masa depan.
Dari Kendari, sebuah gagasan terus tumbuh bahwa perubahan besar selalu berawal dari hal kecil: membaca, memahami, lalu bertindak.










