Sebuah potret yang menunjukkan bahwa perempuan tidak lagi berada di belakang, melainkan berjalan sejajar bahkan sering kali melampaui.
Di Atas Gender, Ada Kompetensi
Meski demikian, Ketua KM Bulukumba Kota Kendari ini tidak ingin perempuan terjebak dalam perdebatan panjang soal gender. Baginya, ukuran utama tetaplah kemampuan.
“Kita tidak bicara gender, tapi siapa yang mumpuni,” tegas mantan Kepala Perpustakaan FEB UHO ini.

Ia percaya bahwa kualitas diri akan selalu menemukan jalannya untuk diakui bukan melalui perdebatan, tetapi melalui karya nyata.
Ketegasan yang Membentuk Karakter
Sebagai pendidik, Prof. Rosnawintang dikenal tegas. Tidak sedikit mahasiswa yang awalnya merasa tertekan dengan pendekatannya. Namun di balik itu, ada prinsip kuat yang ia pegang: setiap orang memiliki potensi, selama mau berusaha.
“Tidak ada yang tidak bisa. Yang ada itu belum mencoba atau belum maksimal,” ujarnya.
Ia tidak hanya mengajar, tetapi membentuk pola pikir bahwa keberhasilan tidak lahir dari alasan, melainkan dari usaha yang sungguh-sungguh.

Seiring waktu, banyak mahasiswa justru menyadari bahwa ketegasan tersebut adalah bentuk kepedulian. Sebuah dorongan untuk keluar dari zona nyaman dan berkembang lebih jauh.
Belajar dari Kegagalan
Dalam pandangannya, kegagalan bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi justru bagian penting dari proses.
“Kalau belum pernah gagal, berarti belum benar-benar berproses,” kata Koordinator Tenaga Ahli dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bombana 2025–2029 tersebut.










