“Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus bersinergi dengan OJK dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat secara berkelanjutan,” kata Abd. Pattah.

Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari Bank Indonesia, PT BPD Sultra, perangkat daerah, camat, kepala desa, hingga tokoh masyarakat.
Sebanyak 112 peserta yang terdiri atas nelayan, petani, ibu rumah tangga, dan pelaku UMKM mengikuti kegiatan dengan antusias, khususnya pada sesi diskusi mengenai investasi ilegal, akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR), Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), dan pelindungan konsumen.
Analis Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara, M. Fachrul Reza, menambahkan bahwa literasi penggunaan QRIS menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi digital sistem pembayaran dan memperluas inklusi keuangan masyarakat.
“Pemanfaatan QRIS dapat memperkuat UMKM sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi digital di daerah,” ujarnya.
Selain edukasi, OJK juga memperkenalkan sejumlah kanal layanan pelindungan konsumen, seperti Aplikasi Portal Pelindungan Konsumen (APPK), Indonesia Anti-Scam Center (IASC), dan layanan iDebKu untuk akses SLIK secara mandiri.
Kanal tersebut diharapkan memudahkan masyarakat memperoleh informasi, menyampaikan pengaduan, dan memantau riwayat kredit.
Melalui kolaborasi antara OJK, Bank Indonesia, dan Pemerintah Daerah Konawe Kepulauan, peningkatan literasi dan inklusi keuangan diharapkan dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
OJK juga menegaskan komitmennya untuk terus memperluas jangkauan edukasi keuangan hingga ke wilayah terpencil dan kepulauan demi menciptakan ekosistem keuangan yang sehat, inklusif, dan berdaya tahan.










