Pada barisan utama, sosok Sultan tampil dengan busana adat kebesaran, diikuti perangkat Kesultanan seperti Sapati, Kenepulu, Lakina, dan Bonto, serta barisan perempuan dengan busana adat khas Buton.
Penampilan tersebut tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarana edukatif yang memperkenalkan struktur pemerintahan Kesultanan Buton serta nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
La Ode Syamsudin menambahkan bahwa partisipasi ini sejalan dengan visi pembangunan daerah “Buton Bersinar” yang menekankan penguatan nilai religius, kemandirian, serta daya saing berbasis kearifan lokal.
“Pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan pembangunan. Identitas daerah adalah kekuatan utama dalam menghadapi tantangan global,” ujarnya.
Melalui partisipasi dalam Pawai Budaya HUT Sultra ini, Pemerintah Kabupaten Buton menegaskan komitmennya untuk terus menjaga warisan budaya sekaligus menanamkan rasa bangga terhadap sejarah daerah kepada generasi penerus.










