Dari situlah ia mulai mencoba usaha peternakan ayam dengan sistem kemitraan bersama perusahaan peternakan.
Dalam sistem tersebut, perusahaan menyediakan bibit ayam (DOC), pakan, vaksin, hingga membantu pemasaran. Sementara ia menyiapkan kandang, tenaga kerja, dan operasional harian.
“Untuk selama ini saya bermitra dengan perusahaan. Jadi saya hanya menyiapkan kandang, ABK (anak buah kandang), dan operasional harian.
Sementara perusahaan menyiapkan DOC, pakan, vaksin, termasuk penyuluh. Dan pemasarannya dipasarkan oleh mitra perusahaan,” jelasnya.
Usaha itu tidak langsung besar. Ia memulai dari nol, belajar dari pengalaman, menghadapi kegagalan, serta menjalani proses panjang yang tidak mudah. Namun dari proses itulah usahanya perlahan berkembang.
Dari satu kandang, kemudian bertambah, hingga kini ia memiliki dua kandang dengan kapasitas produksi besar.
“Kalau untuk saat ini, saya produksi 60.000 ekor per 37 hari,” ujarnya.
Puluhan ribu ekor ayam dalam satu siklus bukanlah angka kecil. Di balik angka itu ada manajemen yang rapi, disiplin kerja, pengalaman lapangan, serta keberanian mengambil risiko.
Melihat Peluang di Tempat yang Membutuhkan
Bagi Herfain, usaha bukan hanya tentang apa yang sedang dikerjakan hari ini, tetapi tentang melihat peluang ke depan.
Ia melihat peluang besar di Maluku Utara yang masih kekurangan pasokan ayam pedaging.










