Terkini, Kendari — Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Halu Oleo (UHO) akan menggelar Mahaswarna Festival 2026, sebuah pergelaran seni yang menampilkan 23 karya kreatif hasil kolaborasi mahasiswa angkatan 2023 dan 2024.
Festival yang merupakan kolaborasi mata kuliah Pergelaran Sastra dan Karya Kreatif itu akan berlangsung pada 4–5 Juli 2026, pukul 18.00–22.30 WITA, di Gedung Teater FIB UHO.
Mahaswarna Festival 2026 melibatkan mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2023 dan 2024 dengan pendampingan para dosen pengampu, yakni Maliudin, S.Pd., M.Pd., Dr. Irianto Ibrahim, S.Pd., M.Pd., Nurlailatul Qadriani, S.S., M.A., dan Syahwan Nugraha, S.S., M.Hum.
Salah satu dosen pengampu, Nurlailatul Qadriani, S.S., M.A., mengatakan Mahaswarna Festival menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan teori yang dipelajari di ruang kuliah ke dalam karya nyata yang dapat diapresiasi masyarakat.
"Mahaswarna Festival 2026 merupakan ruang bagi mahasiswa untuk menerjemahkan pengetahuan dan gagasan sastra ke dalam berbagai bentuk karya kreatif yang dapat dinikmati publik," ujar Nurlailatul.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang dirancang untuk mengasah kreativitas, kemampuan berkolaborasi, serta keterampilan mahasiswa dalam mengelola sebuah produksi seni secara menyeluruh.
Sebanyak 23 karya akan dipentaskan dalam berbagai format, mulai dari teater, tari, monolog, film pendek, film dokumenter, sandiwara sastra, lakon, siniar (podcast), musik, hingga poster.

Menurut Nurlailatul, pendekatan lintas media tersebut menunjukkan bahwa sastra memiliki ruang ekspresi yang luas dan mampu beradaptasi dengan perkembangan industri kreatif.
"Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami sastra sebagai teks, tetapi juga mengolahnya menjadi karya yang hidup, komunikatif, dan relevan dengan perkembangan media kreatif saat ini," katanya.
Ia menambahkan, kolaborasi antarmahasiswa menjadi salah satu nilai utama dalam penyelenggaraan festival. Seluruh peserta terlibat sejak tahap perencanaan, pengembangan konsep, produksi, hingga penyajian karya kepada publik.
"Kami berharap kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang utuh. Mahasiswa belajar menciptakan karya, mengelola proses produksi, bekerja dalam tim, sekaligus bertanggung jawab terhadap karya yang dipresentasikan kepada penonton," jelasnya.
Selain menjadi bagian dari proses akademik, Mahaswarna Festival diharapkan mampu memperkuat budaya apresiasi terhadap karya sastra dan seni di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Nurlailatul mengajak masyarakat untuk hadir menyaksikan pertunjukan sekaligus memberikan dukungan kepada para mahasiswa yang telah melalui proses kreatif selama satu semester.
"Kami berharap masyarakat hadir dan memberikan apresiasi. Dukungan penonton sangat berarti bagi mahasiswa karena setiap karya yang ditampilkan lahir dari proses belajar, eksplorasi, dan kerja kolaboratif yang panjang," pungkasnya.
Mahaswarna Festival 2026 akan digelar selama dua malam dengan harga tiket Rp25 ribu per malam, sehingga masyarakat memiliki kesempatan menikmati beragam pertunjukan yang merepresentasikan kreativitas generasi muda dalam mengembangkan sastra melalui berbagai medium seni.










