Inovasi Pengolahan dan Pemanfaatan VCO

Terkini.id, Kendari – Sulawesi Tenggara merupakan daerah dengan produksi kelapa yang cukup besar. Dimana, tercatat dalam angka oleh Badan Pusat Statistik, produksi kelapa Sulawesi Tenggara yaitu 44.625 ton pada tahun 2019, Jum’at  23 Oktober 2020.

namun pemanfaatan kelapa itu sendiri sangat minim di Sulawesi Tenggara dan hanya terbatas pada penjualan kopra dan pembuatan minyak goreng skala rumahan, yang tentunya memiliki nilai ekonomis yang kurang memuaskan.

jehingga perlu adanya inovasi pada pengolahan kelapa menjadi Virgin Coconut Oil (VCO)guna meningkatkan nilai ekonomis dan juga nilai kesehatan. Virgin Coconut Oil (VCO) merupakan minyak kelapa murni yang dimodifikasi dari pembuatan minyak kelapa sehingga menghasilkan kadar air dan asam lemak bebas yang rendah.

Baca Juga: ASR Konsel Dukung Kegiatan Keagamaan Masyarakat

VCO dicirikan dengan warna bening, berbau harum dan memiliki daya tahan yang lama dengan masa simpan lebih dari 12 bulan.

jika dibandingkan dengan minyak kelapa pada umumnya atau biasa disebut minyak goreng (minyak kelapa kopra), minyak kelapa murni (VCO) memiliki kualitas dan manfaat yang lebih baik.

Baca Juga: Emak-emak di Kolakaasi Dukung Mayjen TNI Purnawirawan Andi Sumangerukka

minyak kelapa kopra tradisional seringkali memiliki beberapa kekurangan dalam proses pengaplikasiannya diantaranya, warna kecokatan, rendahnya umur simpan dan timbulnya aroma ketengikan akibat mudahnya teroksidasi dibandingkan dengan VCO yang tidak mudah tengik karena banyak mengandung asam lemak jenuh.

pengaplikasian VCO di kalangan masyarakat saat ini masih asing terdengar, hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat akan besarnya manfaat dan tingginya biaya pengolahan VCO secara konvensional karena menggunakan metode sentrifugasi yang sulit dijangkau masyarakat awam.

tak hanya itu kurangnya pengetahuan akan potensi VCO di pasar dunia juga menjadi kendala. Bagaimana tidak, berdasarkan ITC (International Trade Center) pasar yang paling potensial untuk mengekspor produk VCO Indonesia adalah Amerika Serikat.

Baca Juga: Emak-emak di Kolakaasi Dukung Mayjen TNI Purnawirawan Andi Sumangerukka

hal ini dikarenakan Amerika Serikat merupakan importir terbesar pada tahun 2018 yang mencapai 487 juta USD. Dengan permintaan terhadap indonesia yang begitu besar, yang berkisar 218 juta USD.

namun Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut dengan hanya memenuhi 42 % dari permintaan. Sehingga inovasi dan edukasi mengenai pemanfaatan dan pengolahan VCO dengan cara yang mudah bagi masyrakat awam perlu dilakukan.

bila dibandingkan dengan minyak goreng, VCO memiliki banyak manfaat bagi kesehatan diantaranya dapat mendukung sistem kekebalan tubuh, menjaga kesehatan kardiovaskuler, melawan kuman, menurunkan berat badan, membantu kelenjar tiroid, menyembuhkan luka dan menjaga kesehatan kulit.

hal ini dikarenakan VCO mengandung asam lemak bebas yang rendah, mengandung asam laurat sekitar 50-70%  yang merupakan asam lemak jenuh serta mengandung senyawa antioksidan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Selain manfaat untuk kesehatan, VCO memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

inovasi proses pembuatan VCO tidak memerlukan biaya yang relatif tinggi dan relatif sederhana, sehingga mudah diaplikasikan di rumah. Proses pembuatan VCO dapat dilakukan dengan cara tradisional dengan metode enzimatis atau dengan bantuan enzim yang mudah didapatkan dilingkingan sekitar.

metode enzimatis ini dapat membantu meningkatkan rendemen atau meningkatkan volume dari minyak VCO yang dihasilkan. Metode enzimatis dapat dilakukan dengan penambahan enzim proteolitik yang dapat memecah protein yang berperan sebagai pengemulsi pada santan.

 salah satu enzim proteolitik yang dapat digunakan yaitu enzim papain yang bersal dari buah pepaya muda. Enzim papain dapat mengakatalis reaksi pemecahan protein dengan menghidrolisa ikatan peptidanya menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana.

proses pembuatan VCO diawali dengan penyiapan santan peras dengan perbandingan 1:1 untuk air dan kelapa parut, agar mendapatkan hasil yang maksimal. Setelah didapatkan cairan santan, cairan santan didiamkan pada suhu ruang untuk memisahkan krim santan dan skim santan.

 setelah terpisah, krim santan dicampur dengan potongan buah pepaya sebagai enzim papain dengan perbandingan 1:50 (b/v) untuk potongan buah pepaya dengan krim santan.

proses selanjutnya yaitu pengendapan campuran santan pada suhu ruang dengan wadah yang telah disediakan hingga terpisah endapan dibagian bawah dan minyak dibagian atas.

minyak yang terbentuk dari proses inilah yang dinamakan VCO. Endapan dari hasil sampingan VCO ini dinamakan blondo yang juga masih mengandung minyak sekitar 30-40 %. Minyak dari blondo inilah yang kemudian dijadikan minyak goreng grade 1 (kualitas tinggi).

blondo yang sudah tidak mengandung minyak juga bisa dijadikan pangan olahan tinggi protein berupa campuran sambal dan juga dikonsumsi langsung.

Dengan adanya inovasi pemanfaatan VCO dikalangan masyarakat, khususnya masyarakat Sulawesi Tenggara, diharapkan masyarakat mendapat wawasan betapa tingginya manfaat VCO bagi kesehatan dan mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Sulawesi Tenggara.

Penulis : Aji Mustaq Firoh

Mahasiswa  Jurusan Ilmu Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB)

Bagikan