Kasus Wakil Bupati Butur di Duga Syarat Rekayasa ?

Terkini.id, Kendari – Kasus yang menimpa Wakil Bupati Buton Utara, Ramadio (RD) mencuat september lalu tentu menjadi perhatian banyak pihak. Menarik karena kasus ini melibatkan kepala daerah dan untuk pertama kalinya terjadi di Sulawesi Tenggara, Rabu, 5 Agustus 2020.

Karena itupulah yang menarik kami untuk mendalami lebih jauh soal kasus ini dengan melakukan reportase lapangan untuk melihat kasus ini dari dekat dan jernih.

Reportase ini kami awali dari sumber kejadian di Daerah Kioko Kelurahan Bonegunu, Kecamatan Bonegunu, Buton Utara, untuk menggali latar belakang korban, pelapor dan pihak – pihak yang disangkakan melakukan pelecehan dan pelaku perdagangan anak dibawah umur.  

Baca Juga: Usut Dugaan Kriminalisasi, Perhakhi Apresiasi Kunjungan Tim Itwasum Mabes Polri...

selanjutnya, soal latar belakang anak inisial E.V.A alias DT (Korban) tidak kami tuangkan dalam release ini semata – mata dengan tujuan melindungi Anak di bawah Umur.

Karena itu dari data yang kami peroleh kami mendorong agar segera di bentuk tim investigasi independen yang melibatkan banyak pihak agar kasus ini menjadi terang benderang dan keadilan menemukan jalannya.

Baca Juga: Polda Sultra Bakal Tindak Pihak-pihak yang Berusaha Membungkam Kebebasan Pers

Kasus ini bermula dari sebuah video pengakuan EVA alias DT telah mengalami tindak pelecehan seksual oleh di duga RD Wakil Bupati Buton Utara terhadap Dirinya yang di rekam oleh FS Awal bulan Agustus 2019 dan mulai ramai di medsos pada pertengahan agustus 2019.

namun dalam perjalanannya tanggal 19 agustus 2019 EVA kemudian membuat Satu Video pengakuan yang direkam oleh EVA sendiri, berisi klarifikasi bahwa video sebelumnya tidak benar RD telah melakukan tindak asusila terhadap dirinya.

dan Video Awal di buat untuk kepentingan menjebak RD sebagai wakil Bupati dengan tujuan merusak kredibilitas seorang pejabat publik.

Baca Juga: Polda Sultra Bakal Tindak Pihak-pihak yang Berusaha Membungkam Kebebasan Pers

Dan pengakuan bahwa Video yang pertama di buat oleh EVA di bawah ancaman penganiayaan dari saudara FS dan imbalan sebesar satu juta Rupiah, (Bukti Dikuatkan dengan Dua Video yang dibuat oleh FS dan EVA sendiri)

Setelah kasus ini ramai di perbincangkan dan di media sosial, tanggal 19 September 2019 DT mengajak FA (Saksi) ke Bau – Bau untuk bertemu seseorang.

dan pengakuan FA, DT bersikeras mengajaknya ke Bau – Bau untuk bertemu seseorang dan akan di beri imbalan sebesar 10 juta rupiah. Namun FA tetap menolak. Dan sekembalinya dari Bau – Bau itulah DT kembali ke Kioko bersama Ayahnya, (Bukti Screenshot percakapan FA).

Kami menduga, pertemuan di Bau – bau inilah skenario penjebakan di kuatkan, seperti dalam video klarifikasi FA bahwa vidio itu di buat demi kepentingan pihak lain untuk menjebak target yaitu DR.

Kejanggalan berikutnya adalah proses pelaporan dan penangkapan terduga pelaku perdagangan anak.

Pada tanggal 26 september 2019 malam, Ayah DT, E Bin LB mendatangi kantor Polsek Bonegunu untuk melaporkan wanita inisial LW atas dugaan dalam perkara tindak pidana perdagangan anak atau Eksploitasi seksual terhadap anak dengan laporan Polisi Nomor : LP/ 18/IX / 2019/ Sultra/Res Muna/SPK Sek Bonegunu, Tanggal 26 September 2019.

Malam yang sama dengan malam pelaporan, Ibu LW di Tangkap dirumahnya di kioko Kelurahan Bonegunu Kecamatan Bonegunu Buton Utara berdasarkan Surat Perintah Penangkapan Nomor : SP.Kap / 182/ IX / 2019/Sat Reskrim Tanggal 26 September 2019. Disertai surat penahanan tersangka diterbitkan pada waktu yang sama.

Artinya, Laporan Polisi, Surat Perintah Penahanan dan penetapan tersangka terbit dalam waktu yang bersamaan.

Dari rangkaian diatas tentu ini adalah sebuah kejanggalan yang perlu di investigasi dan di kaji lebih dalam. Terlebih ibu LW tidak pernah di mintai keterangan lebih dulu sebagai saksi.

dan malam itu langsung diseberangkan Polres Muna dan menjalani pemeriksaan sebagai tersangka pada tanggal 27 september 2019, di tanggal yang sama dengan pemeriksaan DT.

Artinya apa? Ibu LW menjadi tersangka dan di tahan, sementara korban baru di periksa untuk dimintai keterangan di tanggal yang sama. Untuk di ketahui kasus ini bukanlah kasus tangkap tangan.

bukti visum yang dihadirkan di persidangan menjelaskan bahwa luka yang dialami korban adalah luka lama, fakta persidangan ini bersesuaian dengan fakta yang kami dapatkan dilapangan dengan bukti video.

vidoe dan nama kami tidak tuangkan karena menyangkut anak di bawah umur dan kami siap berikan apabila di butuhkan, bila ada tim investigasi independen yg di bentuk. (Bukti Visum di RSUD Muna Tanggal 28 September 2019)

saksi adalah orang yang mendengar, melihat, dan mengetahui secara langsung suatu peristiwa, dengan kata lain saksi tidak boleh mendengar suatu peristiwa dari orang lain, mendengar atau melihat dari orang lain.

saksi adalah orang yang menyaksikan / mengalami sendiri suatu peristiwa.

dari reportase kami, selain pengakuan DT sendiri tidak ada yang menyaksikan secara langsung kejadian seperti yang disangkakan terhadap ibu LW.

dari keseluruhan saksi yang dimintai keterangan oleh Penyidik Satreskrim Polres Muna tidak ada yang menyaksikan kejadian Asusila RD ataupun tindakan perdagangan anak yang disangkakan terhadap ibu LW.

dalam persidangan yang di gelar di pengadilan Negeri Raha, dengan terdakwa Ibu LW tidak ada satupun keterangan saksi yang memberatkan terdakwa.

dalam persidangan terungkap tidak ada satupun yang mengakui pernah menyaksikan langsung kejadian yang disangkakan terhadap terdakwa.

justru dalam persidangan itu terungkap hal yang bersesuian dengan hasil reportase yang kami lakukan. Salah satunya adalah keterangan DT yang membenarkan pertemuan dirinya dengan seseorang sebelum terjadi LP.

dari persidangan yang dijalani oleh terdakwa ibu LW di Pengadilan Negeri Raha menjatuhi vonis hukuman penjara terhadap terdakwa dengan kurungan penjara selama 6 tahun 6 bulan.

mengangap Vonis ini tidak mempertimbangkan fakta – fakta persidangan, maka terdakwa melakukan upaya hukum banding di Pengadilan Tinggi Sulawesi Tenggara.

putusan pengadilan Tinggi menjatuhi Vonis Kurungan penjara selama 9 Tahun 6 bulan.
Saat ini terdakwa tengah melakukan upaya hukum satu tingkat diatasnya dengan Kasasi.

untuk di ketahui, hingga saat ini terdakwa tidak mengakui dakwaan terhadap dirinya.

berdasarkam hasil reportase dan fakta persidangan yang kami cermati, sudah sangat mendesak POLDA SULTRA agar segera membentuk tim investigasi independen bersama pihak pihak yang berkaitan dengan penegakan hukum agar hadir keadilan yang tegak lurus.

kami menduga kuat kasus ini di tumpangi kepentingan penumpang gelap, karena kesannya sangat di paksakan. Bersesuaian dengan pengakuan korban dalam video klarifikasi bahwa kasus ini di buat untuk menghancurkan seseorang.

Penulis : Rifaldi

Ketua Lembaga Front Masyarakat Bersatu (Frasa)

Bagikan