Aku Tak Akan Berhenti

Terkini.id, Kendari – Hidup di bumi bertua ini, selalu dibungkus luka dan bahagia. Luka yang membuat hidup kita terasa dihimpit nestapa, bahagia yang membuat hidup kita terasa lebih manis.

Luka maupun bahagia akan berujung pada kebahagiaan, jika hidup ini dipenuhi oleh rasa syukur.

Seorang pejuang sejati, tak akan cacat bila disambar luka kehidupan yang bertubi-tubi dan juga tak akan merasa paling sempurna jika diberi nikmat bahagia.

Baca Juga: Sempatkan, Jangan Menunggu Kesempatan

Pejuang sejati akan berkata, “Aku tak akan berhenti meski dibalut luka yang mendalam dan juga tak akan merasa lebih tinggi bila dikaruniahi rasa bahagia”.

Kalimat indah terucap dari Ustazd saya, “Yang manis jangan langsung ditelan, karena boleh jadi ia adalah racun, dan yang pahit jangan langsung dibuang, karena boleh jadi ia adalah obat”.

Kalimat diatas menutrisi jiwa, raga dan langkah perjuanganku untuk terus menapaki jalan hidup ini.

Mengapa aku memilih tak berhenti? Yah aku pikir ini adalah solusi the best yang akan memberi sinar dalam setiap langkah kehidupanku.

Aku pikir teman-teman juga sependapat denganku, bahwa memilih lanjut adalah pilihan terbaik untuk melawan himpitan nesatapa dalam kehidupan.

Aku mengambil hikmah dari nahkoda pelayaran. Saat berlayar di tengah lautan, gelombang lautan selalu menyambar kapal yang ia kemudi, tak jarang butiran-butiran air dari langit menambah kekuatan gelombangnya, angin turut bertiup dengan sekencang-kencangngnya dan cuaca menghitam pekat seakan menghalang pandangan para penumpang.

Apa yang dilakukan oleh nahkoda/kapten kapal? Behenti atau lanjut? Tentu melanjutkan perjalanan! Pertanyaan ini cukup sederhana, jika kita tadabburi dengan baik, maka kita akan memperoleh berlapis-lapis manfaat.

Jika saja sang kapten berhenti di pertengahan jalan, maka akan berujung pada tenggelamnya kapal yang ia kemudi dan akan banyak korban-korban berjatuhan ditelan dalamnya lautan.

Sama halnya dengan seorang penikmat gunung, dalam perjalananya menempuh ketinggian 750-1000 mdpl, tentunya tak kurang rintangan yang akan ia hadapi. Mulai dari curamnya kelerengan gunung, semak-semak belukar dan duri rotan yang menghalau perjalanan, serta beranekaragam binatang buas yang mengancam kehidupan.

Semua itu adalah rintangan seorang pendaki, jika ia lengah dan mengambil keputusan untuk berhenti, maka ia akan terus-terusan mengalami luka yang mendalam, bahkan mengalami kematian ganas disebabkan hewan buas yang mematikan.

Namun, jika ia terus fokus berjuang sampai ke puncak, maka rintangan dan luka yang ia hadapi, hanya bersifat sementara dan akan sembuh jika ia sampai ke puncak gunung yang ia tuju.

Dari atas puncak itu ia akan melihat panorama semesta yang sangat indah, memandangi mentari yang pamit dari bumi, duduk di bawah pohon sambil menikmati air segar dari telaga-telaga yang bersih.

Inilah alasan, mengapa aku memilih terus lanjut meski berbalut luka, karena aku yakin di atas luka ada obat yang menanti. Obat itulah yang kusebut dengan kebahagiaan. Kebahagiaan yang diraih di atas perjuangan yang tulus .

Jangan pernah berhenti dalam juang. Jika lelah? Maka istirahat sejenak cukup jadi solusi. Jadikan waktu istirahat itu sebagai waktu menempa dari dengan sebaik-baiknya, membuat ruh lebih sehat dan membuat raga lebih berstamina.

Yakinlah! Luka di bumi hanya bersifat sementara, sedangkan bahagia di akhirat adalah abadi. Bismillah.

Penulis : Safril, S.Si

(Founder Pecandu Literasi, Founder Sahabat Qur’an Kampung Inggris Pare dan Mantan Ketua Umum UKM UK Kerohanian Islam Universitas Halu Oleo).

Bagikan