Kades Poni-Poniki Diduga Terlibat Kongkalikong Dengan Pelaku Penyerobot Tanah

Terkini.id, Konawe Utara – Penyerobotan tanah menjadi hal yang tidak jarang terdengar lagi, mendengar maraknya kasus tersebut di Indonesia.

Kali ini penyerobotan terjadi di wilayah Desa Poni-poniki Kecamatan Motui Kabupaten Konawe Utara (Konut) Sulawesi Tenggara (Sultra).

Hamia (65), seorang janda lansia yang berasal dari Desa Lamboluo Kecamatan Motui menjadi korban penyerobotan lahan oleh warga Desa Poni-poniki.

Baca Juga: BADKO HMI Sultra Suport Rencana Pembangunan Smelter Tiran Group di...

Hamia mengatakan bahwa sejak dulu ia telah menguasai sebidang tanah yang ada di desa tersebut karena sejak masih menjadi hutan.

“Sejak masih menjadi hutan disana, saya sudah tinggal dan membuat rumah, sehingga tanah yang diakui dan dirampas oleh salah satu warga di sana adalah jelas tanah saya dan diakui oleh para pemilik tanah yang berbatasan dengan lokasi saya,” tuturnya.

Baca Juga: Aktivitas Tambang Tanah Urug Milik Mantan Anggota DPRD Sultra Resahkan...

Ia melanjutkan bahwa tanah itu tidak pernah ia jual namun beberapa tahun terakhir tiba-tiba tanahnya dirampas oleh seorang warga.

“Saya tidak pernah jual, namun beberapa tahun terakhir tanahnya tiba-tiba diakui dan dirampas oleh seorang warga Desa Poni-poniki,” lanjutnya.

Sehingga atas dasar itu, ia melalui Kuasa Hukumnya, Iksan Binsar telah melakukan belbagai upaya agar sengketa tanah yang terjadi bisa segera terselesaikan melalui pemerintah setempat.

“Setelah beberapa kali bertemu dengan kepala Desa Poni-poniki agar bisa menjadi mediator pihak-pihak yang bersengketa, hari ini saya coba menemui camat Motui untuk mengadukan permasalahan yang ada sebelum dilimpahkan kepada pihak kepolisian,” ungkap Iksan kepada Kendari Terkini, Selasa, 16 Juni 2020.

Namun karena pemerintah di sana tidak serius menangani aduannya, selanjutnya ia menemui Camat Motui untuk mencari jalan keluar persoalan yang ada sebelum di bawah keranah hukum.

“Karena pemerintah desa dengan jelas tidak menangani kasus ini dengan serius dan kami duga ada kongkalikong antara kepala Desa dan pelaku penyerobotan lahan,” tegas Iksan.

“Sebenarnya persoalan yang ada tidak begitu rumit untuk diselesaikan, apabila pemerintah setempat mau memfasilitasi pertemuan pihak-pihak yang terlibat, namun karena tidak becus serta ketidakmampuan kepala Desa menjadi pemerintah yang baik,” lanjutnya.

“Maka permasalahan ini belum juga terselesaikan mengingat sudah begitu lama dan seringnya kami menemui pemerintah setempat agar bisa mencari jalan keluarnya, dan berdasarkan dugaan kami kades Poni-poniki terlibat kongkalikong di dalamnya mengingat tidak maunya menangani kasus tersebut,” tutup Iksan Binsar.

Bagikan