Perpres Nomor 64 Tahun 2020, Negara Seperti Ingin Berbisnis dengan Rakyat

Perpres Nomor 64 Tahun 2020, Negara Seperti Ingin Berbisnis dengan Rakyat
Jurawal (Koleksi Kendari Terkini)

Terkini.id, Kendari – Keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan Perpres Nomor 64 Tahun 2020 yang berisi kenaikan Iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan adalah bentuk tidak menghargai putusan lembaga tinggi Negara.

Bagaimana tidak, beberapa waktu yang lalu Mahkamah Agung telah membatalkan Perpres Nomor 75 Tahun 2019 yang mengatur pula tentang kenaikan Tarif BPJS Kesehatan.

Meskipun dalih pemerintah menaikan tarif adalah untuk menyelamatkan keuangan lembaga itu sendiri, tetapi hal ini pula telah dibantah oleh Majelis Hakim Agung yang menangani uji materi Perpres Nomor 75 Tahun 2019, yang menyatakan bahwa salah satu alasan terjadinya defisit tersebut dikarenakan kesalahan dan kecurangan dalam pengelolaan dan pelaksanaan program BPJS tersebut.

Sehingga menjadi catatan penting yang tidak dipahami oleh Presiden dalam keputusan tersebut adalah defisit yang dialami oleh BPJS tidak boleh dibebankan kepada masyarakat.

Keputusan ini pula menunjukan bahwa presiden kurang memahami kondisi penyelesaian masalah terhadap defisit lembaga BPJS, kurangnya kehati-hatian istana dalam mengambil keputusan terkait kondisi sosial ekonomi masyarakat, Kementeriam terkait yang tidak mampu menyelesaikan persoalan ditingkat Kementerian sehingga melahirkan keputusan keliru yang dilakukan oleh Presiden.

Baca juga:

Sejak diberlakukannya pada tahun 2014, BPJS terus mengalami persoalan, defisit keuangan yang tiap tahun terus bertambah dan kekurangan dana yang tidak pernah terselesaikan, serta masalah yang tidak pernah selesai adalah mengenai kualitas pelayanan yang dialami oleh masyarakat pengguna layanan BPJS ini.

Kenaikan tarif ini wajar saja turut dikomentari oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon “Rakyat sudah jatuh, tertimpa tangga lalu seperti dilindas mobil”.

Hal ini bisa digambarkan dengan asumsi bahwa negara tidak memahami kondisi kebatinan masyarakat yang tengah menghadapi pandemi yang telah menghancurkan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Bagaimana kondisi masyarakat kecil yang harus berjuang untuk hidup ditengah berbagai larangan yang diterapkan oleh pemerintah, kemudian kondisi ekonomi yang tidak mampu berdaulat, dan ancaman kesehatan yang terus menghantui, ditengah kondisi itu semua pemerintah malah mengeluarkan aturan yang mengharuskan masyarakat harus menambah jumlah uang untuk mendapatkan jaminan kesehatan ditengan krisis kesehatan.

Nampaknya pemerintah seperti sedang ingin berbisnis dengan masyarakat, dimana segala keuntungan dinikmati oleh negara sementara segala kerugian dan PHK bahkan krisis keuangan harus ditanggung oleh masyarakat. Luar biasa!

Sebenarnya penulis lebih setuju dengan program “Asimilasi” Menteri Yasonna Laoly yang selalu berakhir di Mata Najwa.

Program Menteri baru, Juliari Batubara dengan bantuan langsung tunai (BLT) yang mungkin melahirkan daftar nama baru di KPK (tapi KPK juga masih dalam kondisi karantina jadi sepi), atau Menteri Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) yang menjadi trending dengan program 500 TKA-nya yang siap disambut dengan Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara (Mari kita nantikan).

Tapi satu saja harapan penulis, “Kepada seluruh tim medis tetap semangat berjuang di garda terdepan penanganan kasus Covid-19 ini, kalau yang di Istana, “TERSERAHMI”.

Penulis : Jurawal

(Ketua Bidang Lingkungan Hidup Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Kendari)

Komentar

Rekomendasi

Pandemi Memperlihatkan Bagian Terlemah Pendidikan Kita

Cross Media Strategy: Offline Media Berdampak Online

Pemerintah Tabrak Aturan Mulai dari Undang-Undang Lingkungan sampai Dengan Aturan PSBB

Eksterior Buruh di Musim Pendemik COVID-19

Milenial Berbasis Keilmuwan dan Teknologi

Mengentaskan Ketidakadilan Terhadap Kaum Perempuan Sesuai Perjuangan RA Kartini

Dinsos, Membincang Covid-19 dan Instruksi Walikota Kendari

Covid-19 Pandemi, Keriuhan dan Polemik Kebijakan

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar