Kembar Itu Belum Tentu Sama

Kembar Itu Belum Tentu Sama
Fahmi Gunawan (Koleksi Kendari Terkini)

Fahmi Gunawan
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Terkini.id, Kendari – Satu pekan terakhir, istilah “mudik dan pulang kampung” mendapat perhatian besar dari banyak kalangan, baik netizen di media sosial maupun pakar bahasa.

Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan pendapat di kalangan masyarakat. Ada yang menganggapnya sama dan ada pula yang menganggapnya berbeda. Najwa Shihab adalah satu di antara mereka yang menyamakan dua konsep tersebut. sementara, presiden Jokowi membedakan dua konsep tersebut.

Dua kata ini mendadak viral karena perdebatan antara Presiden Jokowi dan Najwa Shihab tentang definisi orang yang pulang kampung apakah disebut dengan mudik atau pulang kampung.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “pulang kampung” berarti kembali ke kampung halaman. Sementara “mudik” berarti dua, pulang ke kampung halaman (bahasa percakapan), dan berlayar, pergi, ke udik atau ke hulu sungai, pedalaman.

Baca juga:

Dari segi makna leksikal, kedua kata tersebut memang sama. Namun dari aspek makna kontekstual, kedua kata itu memiliki makna yang berbeda. Secara konteks, persoalan “mudik dan pulang kampung” berkaitan dengan penyebaran wabah penyakit Corona.

Mudik selalu berada pada konteks pulang di saat lebaran, sementara pulang kampung dapat dilakukan kapan saja. Karena alasan lebaran atau bukan karena lebaran.

Dalam konteks penyebaran penyakit, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan bahwa mudik bermakna pulang ke daerah asal untuk sementara waktu dan akan kembali ke kota domisili, sementara pulang kampung bermakna kegiatan pulang ke daerah asal dan tidak kembali ke kota karena terkena pemutusan hubungan kerja.

Nah, dalam konteks mewabahnya penyakit Corona, mudik menjadi satu hal yang dilarang karena berpotensi untuk mengumpulkan banyak orang di sebuah tempat, baik di terminal bus, pelabuhan, atau bandara udara. Dengan berkumpulnya banyak orang di sebuah tempat, virus itu akan cepat menyebar. Tentu hal itu harus dihindari.

Perbedaan kedua kata ini juga banyak terjadi di dalam bahasa lainnya, seperti bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena persoalan konteks yang berbeda. Kata Alhamdulillah Sukran, misalnya, terkadang dimaknai sama oleh masyarakat, namun terkadang pula dimaknai berbeda.

At-Tabari (1/138), misalnya, menyamakan kedua konsep di atas dengan mengatakan bahwa Alhamdulillah berarti bersyukur kepada Allah, tidak kepada semua yang disembah selain-Nya.

Sementara Ibn Kasir menegaskan bahwa kedua kata tersebut berbeda.

Alhamdu bermakna pujian khusus dengan lisan, sementara Syukur bermakna pujian dengan lisan, hati, dan tindakan. Alhamdu bermakna pujian itu dilakukan karena mendapatkan atau tidak mendapatkan nikmat.

Adapun syukur dilakukan hanya karena mendapatkan nikmat Allah.

Contohnya lainnya adalah penggunaan kata khalaqa, fathara dan ja’ala. Dalam terjemahan Al-Qur’an, ketiga kata ini dimaknai dengan kata yang sama, yaitu menciptakan atau menjadikan. Namun ketika ditelisik dengan seksama, ketiga memiliki perbedaan.

Kata khalaqa bermakna menciptakan sesuatu (yang belum ada sebelumnya) dari sesuatu (yang sebelumnya ada) menjadi sesuatu baru yang belum pernah ada sebelumnya, sebagaimana termaktub dalam Q.S. Ali Imran ayat 49.

Kedua, kata Fathara bermakna menciptakan sesuatu dari tidak ada atau menciptakan pertama kali, sebagaimana dalam surah Fathir ayat 1.

Ketiga, Ja’ala bermakna mengubah kejadian sesuatu yang sudah ada ke kejadian lain, seperti dalam surah Yasin ayat 80.

Contoh lainnya dalam bahasa Arab adalah kata unta yang bisa mencapai lima ribuan kata dan semuanya memiliki makna yang berbeda-beda berdasarkan konteks penggunaannya.

Hal ini karena konteksnya adalah unta binatang padang pasir yang menjadi harta terbaik dan dianggap sebagai modal sosial si pemilik.

Sementara, dalam bahasa Indonesia, kata unta hanya merujuk pada satu makna, yaitu binatang berleher panjang, berpunuk, dan tinggal di padang pasir.

Kata salju bagi masyarakat Eskimo juga memiliki sinonim yang sangat banyak. Kata padi dalam bahasa Jawa juga memiliki referen dengan banyak makna. Dalam bahasa keseharian, dapat dikatakan bahwa kembar itu belum tentu sama.

Perdebatan Presiden Jokowi dan Najwa Shihab menunjukkan kepada kita bahwa dalam memahami sebuah kata, kita tidak boleh hanya melihat teks yang ada, seperti kata mudik dan pulang kampung, atau kata ja’ala, fathara, dan khalaqa, tetapi juga harus memahami konteks latarbelakang munculnya kata tersebut.

Hal ini senada dengan teks Al-Qur’an yang tidak bisa dipahami secara tekstual, tetapi juga secara kontekstual melalui Asbabun Nuzul, atau teks hadits dan konteks Asbabun Wurud.

Dengan memahami teks dan konteks, bahasa apapun yang disampaikan akan dapat dipahami dengan baik. Wallahu ‘Alam.

Komentar

Rekomendasi

Guru Besar Akuntansi Terpilih Dekan FEB UHO, Forum Dosen Indonesia Sampaikan Selamat

Bersatu Perangi COVID-19, BEM UHO Lakukan Aksi Sosial Bersama Polda Sultra, TNI dan Gugus Tugas Covid-19

Oknum Polisi Bekingi Arena Adu Ayam di Tengah Pandemi Covid-19

Lawan Covid-19, Ana Wonua Grup dan 3 KUA Konsel Lakukan Penyuluhan dan Penyemprotan Disinfektan

Bantu Pemerintah Lawan Covid-19, Pemuda Kecamatan Besulutu Lakukan Sosialisasi dan Penyemprotan Disinfektan

Format Sultra Desak Kepolisian Tegakkan Hukum Terhadap Pelaku Kejahatan Lingkungan di Konawe Utara

IAIN Kendari dan SEAAM Siapkan World Conference Semester Mendatang

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar